KABUPATEN BEKASI – Lantunan selawat dan pembacaan riwayat Rasulullah SAW menggema di Pondok Pesantren Al-Muhyiddin, Penyambelan, Desa Sukaasih, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, Selasa (01/09/2026).
Suasana khidmat itu mengiringi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul Akbar Syekh Abdul Qodir Jailani yang digelar Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Kabupaten Bekasi.
Mengusung tema “Meneladani Akhlak Nabi dan Menghidupkan Ruh Tasawuf”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda peringatan keagamaan. Momentum ini menjadi ruang untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah SAW sekaligus memperkuat nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan masyarakat.
Dari Maulid, Selawat hingga Ayat Suci Al-Qur’an
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan riwayat Maulid Nabi Muhammad SAW oleh para santri Pondok Pesantren Al-Muhyiddin bersama tim hadrah pondok.
Lantunan selawat dan maulid yang diikuti para jamaah membuat suasana acara semakin khidmat.
Memasuki agenda inti, acara dipandu KH Mahmudin Al Hafidz. Kegiatan diawali dengan persembahan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh duet qori.
Selanjutnya, KH Ishak Sakurdin selaku tuan rumah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhyiddin sekaligus Mudir JATMAN Kabupaten Bekasi, menyampaikan sambutan.
Di hadapan para ulama, guru thariqah, santri dan jamaah, Ishak mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut meski persiapan dilakukan dalam waktu singkat.
“Malam ini saya sangat bahagia meski dengan persiapan yang singkat. Acara dapat terlansana dengan baik. Para guru thariqah hadir disini. Utama orangtua saya KH Agus Salim HS, Kiai Imam Maulana, dan Prof Mahmud. Serta para Kiai lainnya,” ujar Kiai Ishak.

Para Ulama dan Tokoh Hadir
Peringatan Maulid dan Haul Akbar tersebut menghadirkan KH Agus Salim HS sebagai penceramah. Ia merupakan Pengurus Idarah Aliyah JATMAN, Mustasyar PCNU Kabupaten Bekasi, sekaligus Rais Mustafad JATMAN Kabupaten Bekasi.
Sejumlah ulama dan tokoh juga tampak hadir. Di antaranya KH Imam Maulana, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bekasi, serta Prof. Dr. KH Mahmud, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi yang juga mantan Rektor UIN Bandung.
Turut hadir KH Mustafa Torfi, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bekasi sekaligus Wakil Talqin Thariqah Qodiriyah wan Naqsabandiyah Suryalaya.
Dari unsur legislatif, hadir Anggota DPRD Kabupaten Bekasi dari PKB, Abah H. Boby Agus Ramdan, bersama rombongan.
Kehadiran para ulama, pengurus JATMAN, tokoh masyarakat, kiai, santri serta masyarakat Sukatani dan sekitarnya semakin menambah semarak sekaligus kekhidmatan acara.
Maulid dan Haul sebagai Jalan Memperkuat Akhlak
Lebih dari sekadar mengenang sejarah, Maulid Nabi dan Haul Akbar Syekh Abdul Qodir Jailani menjadi momentum untuk mempertemukan dua teladan besar dalam tradisi keislaman: akhlak Rasulullah SAW dan warisan spiritual para ulama tasawuf.
Keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi pijakan dalam membangun akhlak mulia. Sementara warisan spiritual Syekh Abdul Qodir Jailani mengingatkan umat tentang pentingnya penyucian jiwa, kedekatan kepada Allah SWT, serta kesinambungan tradisi keilmuan dan amaliah ulama.
Pesan tersebut dinilai semakin penting di tengah perubahan sosial dan berbagai tantangan kehidupan masyarakat.
KH Agus Salim HS menegaskan, Maulid Nabi dan haul bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sarana untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan Nabi dan para ulama.
“Peringatan maulid mengingatkan umat kepada akhlak Rasulullah, sementara haul menghidupkan kembali teladan para ulama. Keduanya bertemu dalam satu pesan: memperkuat iman, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pungkasnya.
Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Melalui kegiatan tersebut, JATMAN Kabupaten Bekasi kembali menegaskan pentingnya merawat tradisi keagamaan yang berpijak pada keteladanan Nabi Muhammad SAW dan warisan keilmuan para ulama.
Maulid menjadi ruang untuk menghadirkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW, sementara haul menjadi pengingat agar generasi hari ini tidak tercerabut dari mata rantai keteladanan ulama terdahulu.
Pada titik itulah, ruh tasawuf tidak berhenti pada ritual, tetapi diharapkan hadir dalam perilaku: memperkuat iman, memperhalus akhlak, menjaga tradisi keilmuan, serta membangun kehidupan sosial yang lebih dekat dengan nilai-nilai ketuhanan.
(ASR/AMJ)



